Badan Hukum Pendidikan

Hari ini saya menonton berita yang menyebutkan tentang terjadinya aksi demo mahasiswa di berbagai kota menentang disahkannya RUU BHP. Sebelumnya, jujur saja saya tidak terlalu ‘ngeh’ terhadap berita-berita yang bermunculan akhir-akhir ini terkait dengan BHP. Tadi siang, sembari makan, teman-teman saya membicarakan masalah itu. Saya pun ikut mendengarkan.

Sehubungan dengan beberapa informasi yang saya dapatkan mengenai berita tersebut, saya merasa tidak ikut menjadi pihak yang kontra dalam menyikapi kenyataan telah disahkannya RUU BHP tersebut. Sepertinya, dengan adanya RUU tersebut, malahan akan semakin terjamin terjadinya subsidi silang di dalam suatu institusi pendidikan. Rasanya, pendapat bahwa hanya orang kaya saja yang boleh memperoleh pendidikan itu tidak sepenuhnya benar.

Saya perhatikan beberapa mahasiswa yang melakukan demo itu justru merupakan mahasiswa yang berasal dari institusi-institusi pendidikan yang telah menerapkan jalur khusus dalam penerimaan mahasiswa barunya sejak beberapa tahun yang lalu. Jadi, mengapa baru sekarang mereka berdemo? Mengapa tidak dari dulu saja mereka berdemo kalau memang tidak setuju dengan kebijakan institusi pendidikannya untuk menerapkan jalur khusus dalam penerimaan mahasiswa baru?

Kampus saya, ITB, juga sudah menerapkan penerimaan mahasiswa baru dengan jalur khusus melalui USM selama beberapa tahun terakhir ini. Dan sepertinya sejauh ini tidak ada masalah. Mahasiswa juga fine-fine saja dengan kenyataan ini. Memang, mahasiswa yang masuk melalui jalur USM harus membayar dengan biaya yang lebih tinggi. Namun, biaya tersebut digunakan untuk mensubsidi mahasiswa-mahasiswa lain yang kurang mampu.

Mungkin saya akan berubah menjadi kontra terhadap disahkannya RUU BHP ini apabila di kemudian hari ternyata SPMB ditiadakan. Itu baru namanya ketidakadilan. Seseorang yang pintar pasti bisa memperoleh pendidikan yang layak walaupun keadaan ekonominya tidak memungkinkan. Kenyataan yang saya temui di kampus, banyak beasiswa yang bertebaran bagi mahasiswa-mahasiswa pintar dengan kemampuan ekonomi rendah.

Coba bayangkan apabila universitas tidak menarik bayaran dari mahasiswa dan hanya mengandalkan subsidi pemerintah. Berapa sih yang bisa diharapkan dari pemerintah? Pemerintah Indonesia, seperti yang telah kita ketahui, belum terlalu memperhatikan sektor pendidikan. Fasilitas kampus sudah pasti tidak akan memadai. Ujung-ujungnya mahasiswa juga yang dirugikan, bukan?

Uraian di atas hanya merupakan opini saya. Tidak ada maksud untuk menyalahkan aksi yang dibuat oleh rekan-rekan saya sesama mahasiswa. Mereka berhak untuk tidak setuju dengan segala kebijakan pemerintah. Perbedaan pendapat itu adalah suatu hal yang wajar. Saat ini kebetulan saya tidak sependapat dengan rekan-rekan mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi menentang disahkannya RUU BHP tersebut.

Di kampus saya isu ini tidak terlalu heboh. Jadi, saya sebenarnya nyantai-nyantai saja. Tidak ada demo-demo di kampus saya. Mungkin teman-teman saya lebih concern dengan UAS daripada mengurusi masalah-masalah seperti itu. Hmmm..

4 comments

  1. setuju la…,
    ga ada yang dirugikan kok disini..,seharusnya sebagai mahasiswa-yang-harusnya-cerdas-dalam-menyikapi-tiap-persoalan tidak memandang hal2 gini dari satu sisi aja.,
    dan kayaknya untuk menyampaikan aspirasi ga perlu dengan demo yang anarkis kan?
    kasian orang2 yang ga bersalah dan polisi2 yang jadi mesti tugas ekstra,,,…

  2. iya, kalau demo udah menjurus ke arah anarkis bukannya malah semakin memperburuk citra mahasiswa yang katanya insan berpendidikan? kenapa gak diadakan dialog antara mahasiswa dan anggota dpr aja ya? lebih intelek, gitu..daripada demo-demo gak jelas.

  3. tulisan yang cerdas..
    mahasiswa yang demo itu ewink rasa nga sepenuhnya mengerti RUU BHP, hanya menilai dan menarik kesimpulan dari luarnya saja (baca; ikut- ikutan demo)..

    oiya, salam kenal…
    anak Rumah Blogger kan?

  4. Yah, setuju sih klo mahasiswa ituh lebih baik belajar daripada demo *dan ituh yang gw lakuin waktu anak2 BEM ngajak aksi, padahal gw juga anak BEM*,apalagi banyak manfaatnya memang UU BHP ituh.
    masalahnya mungkin cuma di biaya.
    Lagipula, memang dari dulu udah mahal kan?
    Sekarang yang bisa kita lakukan cuma belajar tekun, dan kalau tidak punya uang, jadikanlah prestasi yang kita ukir sebagai jembatan meraih beasiswa, untuk bisa berprestasi lebih baik lagi..

    *masa pendidikan kita kalah sama malaysia yang dulu ngimpor guru dari kita?*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s