So?

Jadi ceritanya saya lagi iseng lihat-lihat video di Youtube, sampai menemukan video di atas. Friends vs. More Than Friends. Tanpa sadar saya mengaitkan konten video itu dengan peristiwa yang terjadi pada saya.

Beberapa teman sering bilang bahwa saya tidak peka. Jadi, alasan saya single sampai sekarang itu karena saya gak peka. Itu pendapat mereka. Gak tau juga benar atau tidak.

Singkat cerita ada seseorang yang dekat sama saya sejak November 2016. Saya merasa dia hanya menganggap saya teman dan kita berteman secara profesional karena saya juga terlibat suatu proyek dengan dia. Tapi sahabat saya bilang “ih dia tuh suka sama lo, kali La”.

Suatu hari di awal Februari 2017, kita pernah janjian. Hari itu Jumat malam dan hujan. Kami janjian di sebuah mall dekat rumah saya untuk makan dan nonton. Kantor dia di pusat Jakarta, sedangkan meeting point kita di selatan Jakarta. Bisa dibayangkan betapa macetnya jalanan dari kantor dia ke meeting point kita. Jadi, saya sudah perkirakan kalau kemungkinan besar acara ketemuan hari itu akan batal. Tapi ternyata dia datang, naik ojek hujan-hujanan. Padahal beberapa hari sebelumnya bilang lagi sakit radang tenggorokan. Dia bayarin saya makan dan nonton, kemudian dia antar saya pulang.

Kalau definisi “suka” bisa diukur salah satunya dari parameter di atas, ya mungkin saja dia suka sama saya.

Tapi banyak sifat dia yang tidak (belum) bisa saya tolerir. Salah satunya : ingkar janji. Walaupun dia selalu klarifikasi alasannya, tapi tetap saja saya tidak suka. Contohnya, beberapa minggu lalu sebelum saya pergi dia sudah ajak saya ketemu, sudah set waktu. Tapi akhirnya batal. Wajar saya kecewa.

Ketika saya sudah di sini, kami hampir setiap hari berkomunikasi via chat. Kadang juga dia menelepon.

Apa segala definisi di atas itu berarti dia “more than friends?”

Yang saya mau adalah : kalau memang suka, bilang suka. gak perlu pakai kode segala macam. Kan belum tentu saya tolak juga.

Ada teman yang bilang, di umur kita yang sekarang ini sudah tidak perlu legitimasi suatu hubungan dengan kata-kata (baca : prosesi penembakan). Well, buat saya itu perlu. Untuk meminimalisir rasa kecewa kalau ternyata dia hanya menganggap kita teman.

Kalau si tersangka itu tidak sengaja tersasar di blog ini, ya mohon diperjelas aja sih. Haha.

Step 1 : German Language Course

Seperti yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya, saya memulai perjalanan studi S3 di Jerman ini dengan belajar bahasa Jerman. Awalnya saya berpikir “ngapain sih belajar bahasa Jerman segala padahal kan nanti saya akan menulis thesis dalam bahasa Inggris?” Eitss..jangan salah..setelah sampai di sini saya baru menyadari bahwa begitu banyak orang Jerman yang tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi, untuk bisa survive memang harus memiliki sedikit pengetahuan bahasa Jerman. Selain itu, ketika saya menemui Prof saya minggu lalu beliau bilang bahwa saya sebaiknya bisa bahasa Jerman supaya “nyambung” nanti kalau sudah mulai penelitian. Agak shock juga ketika tahu research group saya beranggotakan orang Jerman semua, kecuali saya. Tapi yasudahlah. Dibawa happy saja. 😀

Sudah dua hari ini saya mengikuti kursus super intensif bahasa Jerman di Cologne. Biaya kursus dan akomodasi semua ditanggung oleh DAAD. Dapat uang saku pula. Puji Tuhan luar biasa sekali. Makanya harus serius. Saya mengikuti kursus di level A2. Di sini ternyata kursusnya lebih menitikberatkan pada conversation. Pesertanya juga datang dari berbagai negara, yang harus saya akui mereka sangat aktif di kelas. Jujur saja saya agak keteteran. But I will catch up! 🙂

Hidup saya di sini masih agak santai, karena setiap hari kursus selesai pukul 13.00. Setelah itu adalah waktu bebas, yang beberapa hari ini saya manfaatkan untuk menemani teman-teman baru saya ke pusat kota untuk membeli SIM card. Haha. Serasa sudah tinggal lama di sini. Oiya saya bertemu dua orang Indonesia di tempat kursus. Senang! Mereka berdua berasal dari Manado. Penerima beasiswa DAAD juga, tetapi berbeda skema dengan saya. Selain itu juga saya berteman dengan orang Pakistan, Malaysia, dan Thailand. Yang orang Thailand ini lucu banget dan berinisiatif membentuk South-east Asian Union. Haha.

Seperti yang telah saya singgung di atas, DAAD sudah menyiapkan akomodasi untuk saya. Puji Tuhan lagi lokasi akomodasi saya juga masih relatif dekat dengan pusat kota. Pemilik rumah (landlady) nya juga baik dan sangat helpful. Beliau sukses mematahkan pendapat saya bahwa orang Jerman itu “dingin”. Kebetulan saya ditempatkan di akomodasi tipe communal residence dan dapat housemate orang Indonesia dan Katolik juga. Jadi bisa ke gereja bareng, deh. Memang berkat Tuhan sangat luar biasa bagi saya. Tidak henti-hentinya bersyukur.

I’m safe and sound, so far!

Cologne. 7 Juni 2017. 9.04 PM

IMG_7427

Kolner Dom, yang dulu cuma bisa saya lihat di postcard. Sekarang hanya berjarak beberapa halte dari tempat tinggal saya.

IMG_7432

Pemandangan dari kamar saya. So refreshing!

Hello, Deutschland!

Akhirnya hari Selasa tanggal 23 Mei 2017 lalu saya tiba di Jerman. Hari-hari pertama saya di sini cukup aman, karena masih ditemani oleh Ibu saya. 🙂 Meskipun ini sudah kali ke sekian saya menginjakkan kaki di Jerman, namun kali ini terasa berbeda karena saya akan tinggal di sini untuk kurun waktu yang cukup lama. 3 tahun. Excited sekaligus khawatir juga.

Bagaimana kesan pertama saya terhadap Jerman? Negara ini sangat teratur dan warganya juga taat sekali terhadap peraturan-peraturan yang ada. This is nice! Tapi, menurut saya, orang-orang Jerman itu “dingin”. Tidak seperti orang Inggris yang “hangat”. *mulai membandingkan* Semoga kesan pertama saya ini salah ya.

Anyway saya tidak akan langsung memulai perkuliahan. Rentetan perjalanan hidup di tanah rantau ini akan dimulai dengan Kursus Bahasa (Sprachkurs) di Cologne selama bulan Juni hingga September 2017, yang segalanya sudah diorganisir oleh DAAD. Luar biasa sebagai penerima beasiswa, at least sampai detik ini, saya merasa effortless.

Mohon doanya supaya saya betah di sini, cepat beradaptasi, dan dapat banyak teman.

6 tahun lalu, ketika memulai studi master di Inggris, saya membuat kategori “My life in Newcastle” di blog ini. Sekarang juga akan ada kategori baru “My life in Germany”

Semoga akan banyak cerita seru yang bisa saya share di blog ini untuk menambah semangat teman-teman semua. 😀

Essen, 28 Mei 2017. 10:40 PM

x%ZvLPFyRVSSOEmwatGhIw_thumb_3792

berfoto di depan Essen Hauptbahnhof – ps: iya saya potong rambut pendek (sekali) dan di-highlight merah violet :p

Kenapa Mau S3?

Hari Sabtu pekan lalu, orang tua saya mengadakan Misa Syukur di rumah atas berkat yang Tuhan sudah berikan untuk kami sekeluarga, terutama untuk saya. Pada saat itu Pastor bertanya kepada saya : “Ella, kenapa sih kamu mau capek-capek sekolah hingga jenjang S3?”

Jawaban saya saat itu adalah : “Saya ingin mengembangkan diri dan pada dasarnya saya juga senang belajar. Itulah yang mendasari saya melanjutkan sekolah hingga jenjang S3”

Pada Homilinya, Pastor berkata : “Sebaik-baiknya ilmu adalah yang bisa dibagikan kepada orang di sekitarmu. Jadi, janganlah melulu berpikir untuk dirimu sendiri. Namun, berpikirlah bagaimana caranya agar ilmu yang kamu peroleh selama bersekolah di luar negeri itu bisa kamu amalkan buat orang lain”

Iya. Begitu egoisnya saya sampai saya hanya berpikir untuk diri sendiri saja.

Banyak yang bertanya apakah kelak saya akan kembali ke Indonesia. Sampai detik ini saya masih berpikir untuk kembali dan mengembangkan negeri ini melalui ilmu yang saya dapat di sana nanti. Ternyata memang ada sisi idealis dalam diri saya yang belum hilang.

Banyak hal yang mungkin terjadi selama studi saya nanti. Beberapa hari lagi saya berangkat. Mohon doanya!

Semoga keberadaan saya disana bisa membawa kebaikan bagi orang-orang baru yang akan saya temui. Layaknya yang terjadi di sini dan juga di tempat-tempat lain yang pernah saya singgahi dalam hidup saya.

Saya siap berkarya di tempat baru. Belahan bumi lain yang jaraknya beribu-ribu kilometer dari tanah kelahiran saya, Indonesia.

Bersenandika di Minggu Malam Itu

Hadirnya saya di Institut Français Indonesia (IFI), Bandung hari Minggu malam lalu bukanlah hal yang disengaja. Sehari sebelumnya, dalam perjalanan ke Bandung, saya iseng chat seorang teman yang saat ini tinggal di Bandung, berharap jadwal dia agak longgar jadi kita bisa bertemu barang sebentar. Ternyata, di luar dugaan, dia mengajak kami (saya dan seorang teman) untuk hadir menonton penampilan suaminya dalam acara poemuse. Sebelumnya saya sudah melihat sekilas update-nya di akun Instagram milik teman saya. Saya pikir acaranya sudah lewat.

Oke. Cukup introduksi-nya.

Singkat cerita minggu malam, kami menuju IFI dan menikmati pertunjukkannya. Tajuk dari pertunjukkan ini adalah Senandika.

senandika : wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. -Kamus Besar Bahasa Indonesia

Acara dibuka dengan sambutan singkat dari sang sutradara, Kennya Rinonce, yang ternyata merupakan putri dari seniman Sujiwo Tejo. Beliau menyampaikan overview dari pertunjukkan Senandika ini. Selanjutnya pertunjukkan pun dimulai. Babak pertama dibuka dengan lagu “Meninggalkan Kandang” yang liriknya berdasarkan puisi karangan Eka Budianta dan aransemen musik oleh Ananda Sukarlan. Beberapa puisi dinyanyikan secara apik oleh Soprano Delta Damiana dan Tenor Daniel Victor. Galuh Pangestri menginterpretasikan kata-kata dalam puisi-puisi yang dinyanyikan dalam gerak tari yang energik. Luar biasa. Diiringi oleh dentingan piano dari pianis Nicholas Rio.

Pentas ini merupakan bentuk “protes” dari beberapa seniman muda terhadap situasi di negara Indonesia saat ini, di mana sulit untuk menjadi diri sendiri di tengah derasnya informasi yang kita terima (yang kadang lebih banyak hoax). Mereka rindu Indonesia yang damai di tengah keberagaman. Hanya ini yang bisa mereka lakukan sebagai seniman. Dan menurut saya, mereka berhasil menyampaikan pesan tersebut.

Bagian yang paling saya suka sekaligus membuat merinding adalah ketika mereka menggabungkan lagu Ave Maria, suara Adzan, tarian Saman, dan drama lagu Janger pada piano.  Perpaduan yang sangat indah.

Sedikit masukan dari saya, suara Delta dan Daniel masih bisa dibuat lebih powerful lagi. Mungkin karena faktor akustik venue yang tidak terlalu bagus, di beberapa bagian suara mereka terkesan hilang timbul. Anyway, Daniel suaranya bariton bukan Tenor. 🙂

Namun secara keseluruhan pertunjukkan ini luar biasa. Pesan yang diinginkan telah tersampaikan dengan baik. Di Indonesia jarang ada pertunjukkan yang menggabungkan puisi, musik, dan tari sekaligus. Senandika adalah salah satu yang bagus. Proficiat untuk semua yang terlibat dalam pertunjukkan ini. Keep up the great work! 🙂

ps. Lagu “Meninggalkan Kandang” dan “Dalam Doaku” membangkitkan kenangan masa lalu saya. Bertahun lalu pernah diminta seorang teman untuk mengiringinya latihan kedua lagu itu ketika dia mau ikut kompetisi Tembang Puitik Ananda Sukarlan.

IMG_7184

Berhubung susah ambil foto pas lagi pertunjukkan, maka pasang foto ini saja ya 🙂 Bersama Daniel Victor setelah pertunjukkan 

Ulasan mengenai acara ini juga dapat dilihat pada tautan di bawah ini :

http://lifestyle.kontan.co.id/news/poemuse-menyulap-kebisingan-jadi-nyanyian-puisi

https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170513/282076276790810

Pesta Demokrasi Warga Jakarta

Saya lahir dan besar di Jakarta dan dengan bangga menyebut diri sebagai anak Ibukota. Dan saya bersyukur keluarga saya tidak apatis. Orang tua saya selalu bersemangat untuk menggunakan hak pilihnya demi kemajuan kota kami. Demikian pula dalam rangkaian proses pemilihan kepala daerah tahun ini. Kami selalu mengikuti perkembangannya. Jadi, kami menentukan pilihan bukan berdasarkan “apa kata orang”, tapi berdasarkan data dan kenyataan yang kami saksikan.

Pilkada tahun ini lumayan terasa “panas” ya, apalagi di dunia maya. Kampanye, baik yang positif maupun yang berbau propaganda, kerap berseliweran di linimasa media sosial. Teman-teman yang biasanya asyik untuk diajak berdiskusi santai mendadak jadi “bertanduk” ketika pembicaraan masuk ke pembahasan tentang pandangan politik yang berseberangan. Maka saya sangat menghindari diskusi tentang politik ketika berhadapan dengan teman-teman tertentu yang bahkan beberapa di antara dulu cukup dekat sebenarnya dengan saya. Jujur saja suasana panas jelang Pilkada kemarin sudah mampu membuat kawan berubah menjadi lawan. Hal ini terjadi dalam kehidupan saya. Pengennya sih setelah Pilkada selesai bisa baik-baikan lagi. Tapi saya sudah terlanjur melihat sisi lain dari mereka (yang sebelum ini tak pernah saya tahu). Tak terhitung berapa banyak teman yang saya unfriend di media sosial karena postingan mereka yang selalu penuh dengan provokasi terkait SARA, intimidasi, dan penyebaran kebencian terhadap pihak-pihak yang berbeda pendapat dengan mereka. Beneran deh, masa-masa ini membuat saya kehilangan banyak “teman”. Tapi tidak apa-apa. Semakin kita dewasa, memang akan semakin sedikit teman yang bisa kita percaya.

Siang tadi akhirnya sudah diperoleh hasil perhitungan cepat. Kami akan memiliki pemimpin baru yang mulai bekerja bulan Oktober 2017 nanti. Seketika saya kecewa karena pasangan calon pilihan saya kalah. Ah, tapi di setiap pertandingan selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Mari kita dukung dan beri kesempatan bagi gubernur baru pilihan mayoritas masyarakat Jakarta untuk mewujudkan janji-janji kampanye mereka.

Mungkin memang sebagian besar warga Jakarta ingin memiliki pemimpin yang santun, bukan yang “senggol bacok”. Ya anggap saja begitu ya. Berpikir positif saja. 🙂

Sore tadi sempat berdiskusi melalui chat dengan seorang teman. Pandangan politik kami berbeda. Pilihan kami pun berbeda. Tapi keinginan kami sama. Apapun untuk kebaikan Jakarta dan Indonesia. 🙂

Selamat untuk kita, warga Jakarta.

Terima kasih untuk Pak Ahok & Pak Djarot yang sudah memimpin Jakarta selama ini. Jakarta memang belum bebas macet dan bebas banjir, tapi saya akui kota saya ini sudah jauh lebih baik di bawah kepemimpinan anda.

[sharing] Proses Mendapatkan Beasiswa S3

Setelah berhasil mendapatkan Supervisor/Profesor yang cocok, langkah selanjutnya adalah tentunya perburuan beasiswa. Studi S3 dengan biaya sendiri sama saja dengan bunuh diri. Kecuali kalian memang kaya banget ya.

Tahap pertama dari perjuangan mencari beasiswa adalah buka mata dan buka telinga. Saya mulai bergabung dengan komunitas pemburu beasiswa sejak kuliah S1 tingkat 3 (tapi baru berhasil dapat beasiswa pas sudah mau S3). Pada saat itu belum ada Whatsapp, apalagi Whatsapp group. Informasi di-share melalui mailing list. Saat ini informasi beasiswa sudah sangat mudah untuk diakses. Jadi tidak ada alasan untuk tidak update.

Karena saya studi S2 di wilayah Eropa dan kebetulan untuk S3 dapat proyek penelitiannya di wilayah Eropa juga, jadi saya lebih familiar dengan skema beasiswa di wilayah tersebut. Setiap negara biasanya menyediakan beasiswa untuk applicants dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Saya yakin jika kalian rajin blog-walking, pasti sudah banyak menemukan bloggers yang sharing soal beasiswa Eropa.

Nah, berhubung saya dapat proyek S3 di Jerman, jadi saya “hanya” mentarget 3 beasiswa untuk saya apply tahun lalu. Beasiswa Pendidikan Indonesia dari LPDP (http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-magister-doktor-2/), Beasiswa Unggulan Dosen Indonesia – BUDI LNBeasiswa dari Pemerintah Jerman -DAAD (http://www.daadjkt.org/index.php?program-beasiswa-daad), dan Beasiswa dari Lembaga Katolik Jerman -KAAD (http://www.kaad.de/en/stipendien/stipendienprogramm-s1/).

Awalnya saya sangat berharap dengan Skema BPI-LPDP. Siapa sih pemburu beasiswa yang tidak tergiur dengan skema beasiswa paling prestisius di Indonesia ini? Sayangnya Universitaet Duisburg-Essen (UDE) tidak ada dalam list universitas tujuan LPDP. Tapi saya nekad saja. Toh, saya bisa jelaskan nanti ketika interview (pede banget bakal lolos sampai tahap interview). Pada awal 2016 sempat beredar gosip kalau dosen sudah tidak diperkenankan lagi untuk mendaftar skema BPI-LPDP ini. Namun, dua orang teman saya yang juga dosen (di universitas yang berbeda dengan saya, tentunya) lolos di Gelombang 1 & 2. Saya daftar untuk Gelombang 3. Namun tiba-tiba ada informasi resmi pada pertengahan tahun 2016 yang intinya memberitahukan untuk semua pendaftar beasiswa yang berstatus dosen dan memiliki NIDN, dialihkan ke beasiswa BUDI-LN. Shock! BUDI-LN ini adalah skema beasiswa khusus untuk dosen dan dananya dikeluarkan oleh Ristekdikti dan LPDP. Saya tidak mau menceritakan panjang lebar tentang beasiswa ini, karena hanya membuat sakit hati. Haha. Ya pokoknya intinya saya pernah apply beasiswa ini. Untuk rekan-rekan dosen yang masih menunggu kelanjutan beasiswa ini, tetap sabar, tabah, dan semangat ya!

Selanjutnya saya mendaftar beasiswa DAAD. Yang selama ini saya ketahui, skema beasiswa ini adalah yang paling sulit. Teman-teman saya yang berhasil mendapatkan beasiswa ini adalah mereka yang menurut saya pintar. Jauh melebihi saya pintarnya. Makanya sejujurnya saya tidak terlalu berharap banyak ketika apply, dan sudah berpikir seandainya tidak lolos beasiswa ini ya mungkin memang bukan jalannya saya untuk melanjutkan studi S3. Saya submit aplikasi beasiswa DAAD ini hanya beberapa hari sebelum deadline. Sampai-sampai saya diingatkan oleh koordinator DAAD regional Jakarta untuk segera submit aplikasi, karena sebagian besar dokumen sudah di-upload. Waktu itu saya masih menunggu surat rekomendasi dari dosen pembimbing S1 saya.

Beasiswa terakhir yang akhirnya tidak jadi saya apply adalah KAAD. Kenapa? Pertama : ketika itu saya sudah sampai pada tahap wawancara beasiswa DAAD dan tidak mau membagi konsentrasi saya. Kedua : Persyaratan beasiswa ini agak sulit dan ribet, menurut saya. Tetapi apabila teman-teman mau mencoba, silakan saja. 🙂

Sekitar dua minggu setelah saya submit aplikasi beasiswa DAAD, saya menerima email dari DAAD Jakarta yang berisi undangan untuk menghadiri interview beasiswa. Surprise banget dong! Saat itu saya sedang supervise lab session, dan saya loncat-loncat gak jelas di dalam lab sampai mahasiswa-mahasiswa saya bingung.

Malam sebelum interview, saya video call sama Prof saya. Beliau berinisiatif mengadakan mock interview dengan saya. Pertanyaan-pertanyaan beliau susah banget dan sempat membuat saya nge-drop sambil berpikir apakah interview DAAD seberat itu. Lucu sih kalau dingat-ingat kembali.

Tanggal 14 November 2016, saya menghadiri interview beasiswa DAAD yang diadakan di salah satu hotel di Jakarta Selatan. Kebetulan saya dapat giliran pertama, pukul 09.30. Sudah deg-degan tidak karuan. Untung tidak nge-blank.  Di dalam ruangan itu saya ditempatkan di tengah. Di hadapan saya ada sekitar 7 orang penguji, yang beranggotakan 5 orang penguji dari beberapa universitas di Indonesia yang juga merupakan alumni Jerman yang bidang keilmuannya terkait dengan life sciences & engineering, 1 orang penguji dari DAAD Bonn, dan 1 orang dari Ristekdikti. Sebagian besar pertanyaan yang diajukan mengacu pada proposal penelitian yang sudah saya buat. Untuk pertanyaan-pertanyaan mengenai teknis penelitian, saya bisa jawab dengan tenang. Namun, satu pertanyaan terberat justru datang dari seorang Bapak dari Ristekdikti itu. “What would you do if your research last for more than 3 years?” Ya, itu kemungkinan terburuk yang sangat mungkin untuk terjadi. Semoga jika pun saya nanti berada di posisi tersebut, bisa memperoleh solusi yang tepat. Amin!

Selesai interview rasanya lega. Tidak ada ekspektasi apapun. Karena ditolak itu sakit, bro! Hehe..saya sudah terbiasa dengan penolakan.

Bulan Desember, saya menerima email lagi dari DAAD. Saya baca emailnya pelan-pelan dari atas. Ternyata saya dinyatakan lolos interview dan direkomendasikan untuk menerima beasiswa. Belum mutlak jadi penerima beasiswa. Tapi, tetap bersyukur! Sehari sebelumnya saya dikasihtau oleh rekan sesama dosen di kampus bahwa salah satu penguji saya adalah saudara sepupunya teman saya itu dan beliau menceritakan tentang keadaan saya pas wawancara. HA! Memalukan. Saya jadi terkenal gitu.

Periode Desember 2016 – Februari 2017 adalah periode paling menegangkan karena bisa saja saya akhirnya tidak memperoleh beasiswa. Interview sudah lolos, tapi Letter of Acceptance dari Universitas belum saya terima. Selama libur Natal-Tahun Baru saya tidak tenang. Setiap hari kerjaan saya ngecek email pribadi. Padahal mah di Jerman juga Prof saya lagi liburan. :p Akhir Januari 2017, surat cinta dari UDE datang juga!! Saya diterima secara resmi sebagai kandidat Doktor dengan syarat harus mengambil beberapa mata kuliah yang mana mata kuliah-mata kuliah tersebut SUSAH! SEMANGAT, LA!

Hari bersejarah itu adalah 15 Februari 2017. Satu hari setelah Valentine’s. 10 hari sebelum ulang tahun saya (Penting!). Datang email pemberitahuan dari DAAD Bonn. Berhubung semua komunikasi dengan DAAD dilakukan melalui portal, setiap ada email yang berisi notifikasi untuk membuka pesan baru yang masuk di Portal, itu pasti deg-degan. Begitu juga di hari itu. Ternyata isi emailnya adalah Letter of Award. Saya dapat beasiswa untuk S3!!! Saya satu di antara tiga penerima beasiswa DAAD Research Grant for Doctoral Program dari Indonesia!! Langsung cubit-cubit tangan, tampar-tampar pipi. Sakit! Oh ini beneran! 😀 😀

Beberapa hari lalu, saya diceritakan oleh teman saya sesama penerima beasiswa bahwa salah satu penguji ketika wawancara itu adalah Dosennya. Teman saya sempat bertemu beliau minggu lalu dan menyebut nama serta institusi saya dan seketika katanya beliau berkomentar : “oh dia cerdas”. Jadi senyum-senyum sendiri saya. Puji Tuhan saya bisa memberikan impresi positif di depan orang-orang yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal saya secara personal.

Begitulah pengalaman saya. Seru dan menegangkan. Tapi pada akhirnya selalu ada yang bisa dikenang. Bahwa saya telah berhasil melalui proses itu, dan apabila di depan nanti ada banyak cobaan, mudah-mudahan dengan melihat postingan ini kembali, saya bisa melewatinya dengan baik.

Salam Semangat! 🙂