[sharing] bagaimana mendapatkan (calon) supervisor untuk S3

Setelah beberapa minggu yang lalu saya sharing tentang pengalaman saya mewujudkan serangkaian mimpi saya untuk menjadi sebuah rencana, sekarang saya akan berbagi pengalaman mendapatkan (calon) supervisor untuk s3.

Pertama-tama kita harus sadar bahwa studi di tingkat Doktoral itu jauh berbeda dengan tingkat Master. Berkaca pada pengalaman pribadi 6 tahun yang lalu sewaktu merencanakan untuk studi Master, saya mendaftar ke 4 universitas. Aplikasi saya gagal di 2 universitas dan berhasil di 2 universitas (Newcastle dan Bristol). Pada akhirnya yang saya pilih adalah Newcastle, semata karena universitas tersebut lebih dulu memberikan confirmation of acceptance. Proses dari mendaftar hingga memperoleh konfirmasi memakan waktu kurang dari 1 bulan. Sedangkan ketika mencari calon supervisor untuk S3, saya memerlukan waktu sekitar 2 tahun. Saya sampai sudah bebal dicuekin sama beberapa calon supervisor yang menjadi incaran saya. 😀

Apa yang harus disiapkan dalam rangkaian perburuan calon supervisor S3 ini?

  • Niat

Terdengar klise, tapi ini yang paling penting. Tanpa niat yang kuat, ketika kita berhadapan dengan satu penolakan, besar kemungkinan kita akan menyerah.

  • Tentukan bidang penelitian yang ingin kamu kerjakan untuk proyek S3

Ini harus ditentukan sejak awal. Kalau kita sendiri tidak tahu minat kita, proses perburuan calon supervisor akan terasa sulit sekali. Topik penelitian untuk S3 sebaiknya sejalan dengan topik penelitian yang sudah kita kerjakan ketika S2. Dalam kasus saya misalnya, ketika S2 saya mengerjakan penelitian tentang patogenesis penyakit autoimun. Untuk proyek S3 saya ingin mengerjakan penelitian yang bertujuan untuk menemukan terapi penyakit autoimun.

  • Tulis proposal penelitian

Pada awalnya saya beranggapan bahwa proposal penelitian itu bisa dirancang kemudian, ketika saya sudah menemukan calon supervisor. Saya sudah pernah mencoba menghubungi seorang Prof tanpa bermodal proposal. Beliau bertanya, saya mau penelitian yang seperti apa. Saya bingung menjelaskannya dan korespondensi pun berakhir tanpa hasil. Maka, percayalah. Menulis proposal adalah salah satu bagian terpenting dalam proses perburuan calon supervisor. Buatlah proposal sedetail mungkin. Ketika sudah bertemu dengan calon supervisor yang cocok, besar kemungkinan proposal kita akan dikomentari habis-habisan. Tidak menutup kemungkinan, proposal penelitian akan berubah total. Tapi, kita sudah meninggalkan kesan pertama yang baik kepada calon supervisor kita. Kita punya modal proposal.

Trik ini mungkin berbeda-beda bagi tiap orang. Saya mencari calon supervisor berdasarkan universitas tempat beliau bernaung. Walaupun banyak yang bilang bahwa universitas di wilayah Eropa pada dasarnya memiliki kualitas penelitian yang sama, saya tetap berpegang pada prinsip, ketika kita kuliah di tempat yang bagus, akan lebih banyak hal yang bisa kita dapatkan karena pasti kita akan banyak berinteraksi dengan orang-orang hebat.

  • Kirim email ke calon supervisor 

Tulis email dengan bahasa Inggris yang baik, benar, dan sopan. Ingat, email pertama kita akan menentukan bagaimana kesan calon supervisor terhadap pribadi kita. Jangan lupa lampirkan CV dan proposal penelitian kita. Ada beberapa orang yang bilang, email pertama sebaiknya berisi perkenalan diri dulu, Jangan langsung tembak dengan proposal dan sejenisnya. Well, bukannya saya gak sabaran, tapi akan lebih efektif untuk menjelaskan maksud dan tujuan sekalian melampirkan dokumen-dokumen terkait di email pertama. Calon supervisor kita itu adalah orang yang sibuk. Jadi jangan bayangkan dia punya waktu untuk terus-terusan keep in touch dengan kita.

Langkah selanjutnya adalah menunggu respon dari calon supervisor kita. Biasanya kalau beliau tertarik dengan proposal kita, beliau akan merespon email kita dalam kurun waktu 2 minggu. Kalau setelah 2 minggu belum ada jawaban, ada baiknya kita kirim ulang email kita. Kalau masih tidak ada jawaban juga, anggap saja kita belum jodoh dengan calon supervisor itu. Cari calon supervisor yang lain.

Kunci utama dalam proses perburuan profesor adalah ketekunan. Jangan pernah menyerah ketika menghadapi penolakan.

Good luck! 🙂

dua puluh sembilan

Tanggal 25 Februari yang lalu usia saya bertambah menjadi 29 tahun. Sudah tua, kata beberapa orang. Masih muda, kata saya. Di umur saya ini, ibu saya sudah menikah dan beranak satu.

Saya? Single, bahagia, dan penuh mimpi. Dulu sewaktu berusia awal dua puluhan, saya memiliki target untuk menikah di usia 25. Angka itu pun tanpa terasa terlewati tanpa ada pria yang mendekati saya. Lepas dari usia 27 tahun barulah ada beberapa yang mendekat, namun seketika menjauh tatkala saya bercerita tentang mimpi-mimpi besar saya yang masih menunggu untuk diraih. Namun ada satu yang tak menjauh. Dia. Orang yang sama sejak dua tahun lalu.  Yang hampir saja malah membuat saya balik kanan maju jalan. Tapi akhirnya saya putuskan tidak jadi. Kami saling menyayangi dalam diam. Tapi kami tahu sama tahu perihal hati masing-masing.

Sekarang, tinggal satu tahun lagi menuju angka 30, saya hanya ingin berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan diri saya di tahun-tahun yang lalu.

Saya bahagia dengan segala pencapaian saya selama 29 tahun menghirup dunia ini. Sudah pernah diperkenankan mencicip studi di negara yang berjarak 10.000 km dari rumah saya. Dan sebentar lagi pun akan beroleh kesempatan lagi.  Saya bersyukur Tuhan menganugerahi saya teman-teman yang luar biasa serta keluarga yang sangat suportif.

Kado ulang tahun terindah sudah saya dapatkan di awal Februari 2017.  Dimulai dengan datangnya LoA dari Jerman, JJA saya akhirnya di-approve, dan datangnya keputusan bahwa saya lolos beasiswa DAAD. Kado yang sangat spesial. Semuanya atas kuasa Tuhan, tentunya.

Tiga bulan lagi saya akan kembali merantau untuk 3 tahun. Pasti akan ada yang sinis yang berkata “Kamu sekolah terus sih? Kapan nikahnya?” Untuk setiap hal, ada waktunya masing-masing. Tenang saja lah. Toh ini hidup saya.

 

[sharing] my journey on turning dreams into plans

*disclaimer : this gonna be a long blog post*

Semua berawal dari tahun 2012, ketika saya merampungkan studi S2 saya di Newcastle, UK. Hari itu akhir November, hari terakhir saya datang ke lab untuk berpamitan dengan rekan-rekan yang berada di dalam research group yang sama dengan saya, termasuk dengan Prof saya dan co-supervisor saya. Saya masih ingat percakapan kami saat itu

Prof : “So, Gabriella. what’s next?”

Me : “I’m planning to continue doing a PhD”

Prof : “Where are you planning to apply for a PhD position?”

Me : “Germany”

Co-supervisor : “Eh? Why Germany?” *fyi, supervisor saya ini tipikal orang British banget, yang kayanya ada dendam kesumat sama orang Jerman*

Me : “Why not?”

Semenjak itu, saya mulai melamar ke berbagai universitas yang sedang membuka lowongan untuk mahasiswa PhD. Januari 2013, saya sempat memperoleh kabar baik bahwa saya masuk ke dalam shortlisted kandidat PhD di TUM. Jangan ditanya betapa senangnya saya saat itu. Baru lulus master dan yakin bakal keterima PhD di Jerman. Dreams come true! Pertengahan Februari 2012, saya berangkat ke Munich, Jerman untuk final interview dengan calon supervisor saya. For your info, proyek PhD yang ditawarkan pada saat itu adalah di area kanker. Padahal, mimpi saya adalah mengerjakan proyek penelitian yang terkait terapi penyakit autoimun. Namun, pada saat itu yang ada di pikiran saya adalah yang penting lanjut PhD, yang penting pergi dari Indonesia. Ya, saat itu saya adalah seorang anak muda yang belum bisa move on dari nyamannya suasana Eropa. Dan saya gagal di final interview. Sempat sedih, tapi ya sudah mungkin memang belum jalannya saya lanjut sekolah.

Awal Maret 2012 saya kembali ke Indonesia dan puji Tuhan langsung ditawari oleh salah seorang teman untuk mengerjakan sebuah proyek penelitian. The power of networking! Saya bekerja sebagai research assistant selama kurang lebih 6 bulan, mengerjakan 2 proyek. Dalam kurun waktu itu pula saya melanjutkan proses melamar PhD dengan membabi buta. Setiap ada lowongan, saya baca requirement-nya sekilas dan langsung saya lamar. Terkadang saya sudah bisa memprediksi bahwa saya tidak akan diterima, mengingat kualifikasi saya tidak memenuhi persyaratan minimum untuk proyek-proyek tersebut. Tapi saya nekad. Akibatnya? Puluhan email penolakan saya terima selama tahun 2013 itu. Supervisor S2 saya sampai ngambek tidak mau menulis surat rekomendasi lagi  untuk saya dan beliau benar-benar lakukan itu. Beliau tidak pernah membalas email-email saya selanjutnya yang terkait dengan aplikasi PhD. Saya tahu pada kurun waktu tersebut beliau pindah dari Newcastle ke Utrecht. Bahkan beliau tidak menginformasikan email barunya kepada saya. Haha. Saya menyebut 2013 sebagai a year when life really punched me right on my face. Tahun penuh perjuangan dan penolakan. Dan tahun di mana saya menjadi pengangguran (ngehe) selama 6 bulan. Puas lah glundang glundung di rumah sambil sesekali melamar pekerjaan.

Dalam periode jadi pengangguran itu, ternyata saya lumayan produktif juga. Saya menulis satu proposal penelitian, yang pada akhirnya  amat sangat berguna untuk hunting calon supervisor. Sekitar akhir 2013 saya mendapat info (lagi-lagi the power of networking) dari salah seorang teman yang dulu bersama-sama studi Master di Newcastle. FKUI membuka program PhD joint degree dengan Newcastle University. “Wah, bakal balik lagi ke UK nih”, pikir saya saat itu. Excited! Jadilah saat itu saya ikut ujian SIMAK UI untuk program Doktor dan lolos. SIMAK UI ternyata tidak sesulit yang dikatakan orang-orang. #sombong. Tidak lama setelah itu, saya mendapatkan konfirmasi dari Newcastle bahwa sudah ada supervisor yang bisa membimbing saya. Namun pada akhirnya saya terbentur masalah pembiayaan. Pada saat itu saya mendaftar beasiswa LPDP. Mungkin karena skema programnya tidak terlalu jelas (joint degree ini mengharuskan saya untuk membagi studi saya menjadi 2 periode, 1.5 tahun di Indonesia dan 1.5 tahun di Inggris, kalau tidak salah), jadi pada akhirnya tidak lolos seleksi administrasi. Singkat kata, gagal lagi.

Awal 2014 saya masih belum menyerah untuk mendaftar program PhD yang lain. Namun, tidak disangka-sangka pada Maret 2014, berawal dari iseng-iseng karena bosan diceramahin sama Ibu saya gara-gara kelamaan menganggur, saya malah mendapatkan full time job yang akhirnya membawa saya sebagai seorang dosen. Kita memang tidak pernah bisa memprediksi ke arah mana hidup akan membawa kita. Pada tahun ini saya sangat menikmati profesi baru saya dan sejenak melupakan mimpi besar saya untuk melanjutkan PhD.

Pertengahan 2015 barulah saya tersadar ada mimpi yang menunggu untuk diwujudkan. Tepatnya disadarkan oleh seorang teman lama. Kebetulan pada saat itu dia juga sedang berjuang untuk mimpinya. Beberapa kali, baik secara langsung maupun melalui chat, dia seakan mengindoktrinasi saya supaya segera melanjutkan studi. Percakapan kami biasanya seperti ini :

Teman saya : “Ella..buruan gih lanjut S3”

Me : “Gw belum dapat Prof. Capek gw ditolak mulu”

Teman saya  : “Pokoknya lo harus lanjut S3. Pakai LPDP” *iya dia awardee LPDP yang selalu mempromosikan (maksa, lebih tepatnya) supaya saya daftar beasiswa itu*

Saya akhirnya terbujuk juga oleh omongan dia. Mulai lah saya poles-poles proposal saya yang sudah teronggok di folder laptop sejak 2013. Pada saat itu, preferensi saya mengenai negara tujuan untuk studi PhD  mulai berubah. Saya mau kuliah di Inggris saja karena malas berhadapan dengan kendala komunikasi. Sebagai informasi saja, proposal penelitian saya adalah tentang Graves Disease, salah satu jenis penyakit autoimun yang etiologi-nya masih belum jelas hingga saat ini. Saya memang agak idealis dan cenderung ngotot kalau sudah bicara tentang ide penelitian. Hehee. Jadilah saya mencoba mencari Profesor di Inggris yang fokus penelitiannya di area tersebut. Tak disangka ada seorang Profesor di King’s College London (KCL) yang mengerjakan penelitian dengan topik tersebut. Saya kirim proposal saya ke beliau. LIMA BELAS menit kemudian beliau balas email saya dong! Beliau sangat tertarik dengan ide penelitian saya dan mengajak saya meeting via Skype di hari berikutnya. Pada saat Skype meeting itu beliau mengatakan bahwa beliau memiliki kolaborator di Jerman yang mengerjakan penelitian seperti yang saya inginkan. Jadi, beliau menyarankan saya untuk studi PhD di Jerman saja.  Wah saat itu rasanya bahagia sekali saya. Entah mengapa pada saat itu saya yakin bahwa saatnya sudah dekat untuk saya melanjutkan studi.

Mungkin memang ini sudah digariskan oleh Tuhan, beberapa hari kemudian saya memperoleh info ada conference tentang personalized medicine di London. Kebetulan saat itu saya sedang mengerjakan proyek menulis article review tentang personalized medicine (yang pada akhirnya mandek sih sampai sekarang. tidak sempat terurus lagi. haha!). Jadi, saya rasa cocok. Maka berangkatlah saya ke London untuk conference dan di sela-selanya saya ke KCL bertemu dengan calon Profesor saya itu. Saya menjelaskan bahwa saya akan mendaftar beasiswa untuk membiayai penelitian saya. Ketika itu saya masih pede bisa lolos beasiswa LPDP. Well, ternyata rencana saya yang terkait beasiswa ini tidak semulus yang saya bayangkan. Keseruan proses hunting beasiswa ini akan saya ceritakan dalam posting selanjutnya ya! Singkat kata, calon profesor saya itu antusias sekali dengan proposal penelitian saya. Setelah itu saya mulai penjajakan dengan calon Profesor saya yang di Jerman, yang ternyata juga tidak kalah antusias. Puji Tuhan.

Proses selanjutnya adalah merevisi proposal penelitian saya, disesuaikan dengan situasi terkini terkait Graves Disease itu sendiri. Prosesnya cukup alot, karena -kembali lagi- saya orangnya agak keukeuh sama pendapat saya. Setelah korespondensi selama sekitar 1 bulan, akhirnya jadilah proposal penelitian saya yang sudah final. Yang memerlukan waktu lama adalah finalisasi segala hal administratif yang terkait dengan persiapan studi PhD saya ini. Perlu waktu hampir 1 tahun sejak saya memperoleh surat konfirmasi bahwa mereka bersedia menjadi pembimbing saya hingga keputusan akhir terkait pendanaan studi saya. Proses yang lama, yang melibatkan banyak pihak, yang jujur saja sempat membuat saya lelah.

Saat ini saya sedang dalam fase hectic karena tak menyangka jadwal keberangkatan saya ternyata harus dimajukan 3 bulan dari rencana awal. Banyak sekali hal yang perlu saya lakukan terhitung dari bulan Maret hingga Mei ini. Tapi saya bersyukur akhirnya bisa sampai pada fase ini. Fase yang sudah saya tunggu-tunggu sejak 5 tahun yang lalu.

Banyak pelajaran yang saya petik dari perjalanan panjang menggapai mimpi ini :

  1. Berdoa, berdoa, dan berdoa. Saya memeluk agama Katolik, jadi saya berpegang pada Alkitab. Ayat Alkitab yang selalu menguatkan saya adalah Yesaya 41:10 – “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan”
  2. Jangan pernah merasa bahwa mimpi kita terlalu tinggi. Saya suka sekali dengan quote dari Andrea Hirata yang tertulis di dalam novel Laskar Pelangi : “Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”
  3. Selalu berpikiran positif dan menunjukkan kegigihan kita di depan calon Profesor
  4. Jangan pernah berpikir untuk berhenti ketika satu peluang untuk mendapatkan beasiswa tertutup.
  5. Perluas networking. Kita harus rajin datang ke acara-acara info session berbagai universitas dan berbicara dengan orang-orang yang inspiratif. Intinya, surround yourself with positive and inspiring people.
  6. Jangan pernah meremehkan sesuatu yang bernama “keajaiban”. Banyak hal yang bagi kita terasa tidak mungkin. Tapi bagi Tuhan, semuanya mungkin terjadi.

Keluarga berperan penting dalam proses ini dan mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui segala pergumulan yang pernah saya hadapi  hingga bisa sampai pada kondisi sekarang ini. Namun, kedua orang tua saya bukanlah tipe orang tua pemaksa. Mereka tidak terlalu heboh menyuruh saya S3. Yang heboh justru teman-teman terdekat saya. Mereka semua semangat sekali mendorong saya untuk S3 karena mereka tahu bahwa ini adalah impian saya sejak lama. Terima kasih tak terhingga untuk teman-teman saya. Apalagi untuk satu teman yang paling memaksa saya untuk S3 itu. Inisialnya CA. Dia yang dulu selalu kirimkan kata-kata motivasi buat saya. Bahkan yang sampai datang ke rumah saya untuk mengajari saya “simulasi” wawancara beasiswa. Haha. Terima kasih ya.

Perjuangan belum selesai. Masih ada 3 tahun di depan sana, yang saya pun belum tahu akan seperti apa. Teruntuk teman-teman yang masih berjuang, jangan berhenti berjuang untuk menggapai mimpi. Proses ini memang tidak mudah. Tapi kuncinya hanya satu : pantang menyerah.

Salam semangat! 🙂

 

Don’t Be Too Busy

Before you read this post, better you take a look at Laura Vanderkam’s Talk on TED, above.

I believe, at least once in your life, you have ever rejected someone’s invitation and took your tight schedule as your excuse. Well, in my case it’s not only once but probably hundreds. Therefore, the first time I watched this talk, it was like punching me right on my face.

Let’s do a little bit of calculation. Most of us work from Monday to Friday 8AM-5PM and spend 4 hours in average to commute between home and office. So, roughly we spend 13 hours for work-related stuffs. One day, consist of 24 hours and as normal adult we need around 5-6 hours for sleep. That makes we actually have 5 hours free time a day. Assuming we don’t work on the weekends, then we have additional 48 hours free time. So, in total we have 73 hours of free time in a week.

And  yet we still say that we don’t have time to meet an old friend, we don’t have time to go to the church with our family, we don’t have time to do voluntary works, etc. That’s just nonsense. Just like Ms. Vanderkam’s said in that video : “saying you don’t have time  for something means that it’s not your priority”

However, I’ll bring you to this kind of situation. Let’s say you have such a busy schedule, but suddenly your crush contact you asking to go out tonight. If that happens to me, I would set aside all of my schedule and just go out with my crush after office hours. See? It’s about priority. The question is : can we treat all of the people like we treat our crush? 😉

How do I solve this “I’m too busy I don’t have time” problem? Ever since I have a full time job, I have been such a busy urban city young woman. My parents said so! I almost never be at home on Saturdays. The same situation applies to most of my friends, though. Usually we plan our hangout sessions a couple of months prior, so on the assigned date none of us have excuses (well, except if there’s a sudden call from work. duh!). That’s the only win-win solution for me not to loose connection with my friends.

I also make a personal commitment to dedicate one day in a week, which is Sunday, for church-related activities. I mostly reject any invitations, including hangout sessions with friends, on Sundays. When do I spend time with my family? Everyday after office hours and on Saturday nights (since I’m still single, so I spend Saturday nights with them. lol).

Another commitment that I make with myself : not bringing home work-related stuffs. That means I must maximise my 9 hours at work. Although I failed in this, sometimes and end up bringing office laptop home over the weekend.

Sometimes people say they don’t have time to read and catch up with the current issues because they are too busy. Well, to be honest, nowadays I don’t read as many books as when I was still a jobless. But I still manage to read at least one book in one month ( for a person who used to read tons of books in a month, this is so lame!). I always carry a book in my handbag and read during my commuting time. Regarding catching up with the current issues, I listen to the radio every morning and also scrolling the social media timeline so I always keep updating myself.

And yeah one more thing. How can I find time to update my blog? I realise that now I’m not updating my blog as often as before. Well, I try to update this blog with new content each week, though. And hey, let me tell you, suddenly I got a brilliant idea couple of weeks ago. I listed down some topics that I can use to update my blog. This is nice. 🙂

To sum up this post, we have 73 hours of free time in a week. Saying that we don’t have time is just not acceptable. We surely have time to have a cup of coffee with our inner circles. We surely have time to have lunch with our parents. And for singles, you DEFINITELY have ENOUGH time to actually go out and mingle! (talk to the mirror, La!)

Once again, it’s all about setting up your priority. 🙂

balik kanan maju jalan.

“La, kamu janji ya kalau suatu saat nanti kamu tiba-tiba sudah gak ada perasaan lagi sama dia..kamu jangan musuhi dia” | “Iya, janji”

Percakapan berbulan-bulan lalu dengan teman saya. Berbicara soal memilih pacar, ada satu profesi pria yang bagi saya tidak layak untuk dijadikan pacar (saya) : dokter. Kenapa? Karena saya punya beberapa teman yang berprofesi sebagai dokter dan saya sudah paham sekali bagaimana tidak teraturnya hidup seorang dokter. Saya bukan tipe orang yang, ketika punya pacar, mengharapkan si pacar ada di sisi saya 24/7. Tapi juga bukan orang yang bisa santai-santai saja ketika si cowok menghilang tanpa kabar selama beberapa hari. :p

Tapi, kita tidak pernah tahu jalan hidup kita kan. Singkat kata, pada akhir 2012 sepulangnya saya dari UK, saya bertemu kembali dengan seorang teman lama. Cowok. Profesinya dokter. Jreng! Entah bagaimana caranya, kami menjadi dekat. Selama satu tahun terakhir ini, tidak ada status yang melabeli hubungan kami. Semuanya baik-baik saja. Dia sangat sabar, baik hati, dan suportif. Terlepas dari jam kerjanya yang ajaib. Saya pikir, saya bisa berkompromi dengan keadaannya. Ternyata saya tidak bisa.

Suatu hubungan hanya bisa berjalan jika kedua belah pihak bisa berkompromi dengan keadaan pasangannya. Dia gak salah. Saya yang tidak bisa berkompromi. Jadi, hubungan ini memang tidak bisa berjalan mulus. Jujur, saya belum pernah merasa seyakin ini dengan seseorang, sebelum dia. Namun, pada akhirnya saya menyadari bahwa jangan sampai perasaan ini membutakan saya dan lupa menggunakan logika.

Hidup terus berjalan dan saya memutuskan untuk balik kanan maju jalan. Banyak teman (dan keluarga) yang berharap banyak pada hubungan kami. Maaf kalau mengecewakan kalian ya. Saya sempat ingin bertahan, tapi dia tidak bisa memastikan sampai kapan saya harus menunggu. Ada seorang teman yang juga bilang “kalau dia niat dekatin kamu, dia akan berusaha”. Saya tahu dia sudah berusaha keras untuk itu, tapi memang saat ini keadaannya tidak memungkinkan. Dan dia sebenarnya sudah mengingatkan saya akan hal itu. Saya saja yang tidak bisa menerima keadaan dia saat ini.

Semoga kelak akan ada seorang wanita yang jauh lebih sabar daripada saya dalam menghadapi dia. Haha..banyak kenangan manis sama orang ini yang selalu bikin saya senyum-senyum kalau diingat-ingat lagi.

Semangat terus ya, Pak Dokter. Boleh ada istilah bekas gebetan. Tapi gak ada istilah bekas teman ya. Kita berteman selamanya dan teman sejati selalu mendukung satu sama lain. 🙂

Dengan ini berakhir sudah proses lempar-lemparan #kode. Haha.

ps. saya gak akan menghapus segala postingan di blog ini yang terkait sama dia. silakan dibaca (dan ditebak-tebak) saja, bagi kalian yang kepo.

thumb_422BCC31-CCDA-41EB-B2F5-1674BE55B6FE_1024

foto yang diambil olehnya, pada sesi jalan bareng kita yang pertama. Aula Simfonia, Oktober 2015.

Manusia Kuat – Tulus

Kau bisa patahkan kakiku
Tapi tidak mimpi-mimpiku
Kau bisa lumpuhkan tanganku
Tapi tidak mimpi-mimpiku

Kau bisa merebut senyumku
Tapi sungguh tak akan lama
Kau bisa merobek hatiku
Tapi aku tahu obatnya

Manusia-manusia kuat itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat itu kita

Kau bisa hitamkan putihku
Kau takkan gelapkan apapun
Kau bisa runtuhkan jalanku
Kan ku temukan jalan yang lain

Manusia-manusia kuat itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita
Jiwa-jiwa yang kuat itu kita

Bila bukan kehendakNya huuu
Tidak satu pun culasmu akan bawa bahagia

Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita
Manusia-manusia kuat itu kita, jiwa-jiwa yang kuat itu kita

Kau bisa patahkan kakiku, patah tanganku rebut senyumku
Hitamkan putihnya hatiku, tapi tidak mimpi-mimpiku

I instantly fall in love with this song. The lyrics are so relatable for me and, I believe, for everyone who’s currently struggling to pursue their dreams despite all the challenges that we are facing.

Keep the spirit! God never sleep 🙂

2016 : a year of overcoming obstacles

Seminggu lagi, habis sudah hari di tahun 2016. Tahun yang serasa roller coaster bagi saya. Tahun ketika saya diharuskan membuat berbagai keputusan besar yang masing-masing diikuti oleh segala konsekuensinya. Tapi, puji Tuhan, tahun ini bertambah satu orang yang dengan tulus tanpa henti memberikan suntikan semangat untuk saya.

Sejak akhir 2012, mimpi saya adalah lanjut sekolah S3. Tapi, rupanya Tuhan punya kehendak yang berbeda. Saya belum bisa lanjut S3. Tuhan malah berikan saya pekerjaan, hingga sekarang saya jadi dosen.

Akhir tahun 2015, saya diingatkan kembali (dipaksa, lebih tepatnya) oleh seseorang untuk menggapai mimpi yang tertunda itu. Mulailah saya hunting supervisor hingga akhirnya menemukan profesor yang projectnya cocok dengan yang saya inginkan. Proses ini berlangsung relatif cepat. Saya yakin tangan Tuhan bekerja dalam hal ini. 

Bulan Mei 2016, saya mengambil unpaid leave selama kurang lebih 15 hari untuk pergi menghadiri conference di London, sekaligus menemui calon profesor saya. Keputusan yang gila, memang. Tapi, kalau saya tidak melakukan hal tersebut, bisa jadi calon prof saya meragukan keseriusan saya. 

Setelah itu, dimulailah perjuangan mencari beasiswa. Awalnya saya pede daftar beasiswa L*** yang lagi hits banget itu. Si dia, yg kebetulan adalah awardee beasiswa tersebut, semangat sekali sharing tips & trik supaya saya lolos wawancara beasiswa ini. Namun rupanya saya tidak berjodoh dengan beasiswa ini. Di saat-saat terakhir saya menerima kabar bahwa mulai tahun pertengahan 2016, dosen ber-NIDN tidak bisa lagi melamar beasiswa ini, melainkan harus melamar melalui beasiswa BUDI-LN. Shock lah saya. Namun, saya tetap mencoba melamar beasiswa BUDI-LN tersebut sembari melamar beasiswa lain. Yang tak disangka, saya malah dipanggil wawancara beasiswa lain itu dan akhirnya lolos wawancara serta direkomendasikan untuk menerima beasiswa. Beasiswa apakah itu? Nanti akan saya ceritakan pada waktu yg tepat, lengkap dengan sharing pengalaman dari saya. 

Tahun ini juga beberapa tempat yang ada di travel bucket list saya akhirnya berhasil saya kunjungi. Penyandang dana-nya masih orang tua sih. Semoga suatu saat nanti bisa gantian saya yang bawa mereka jalan-jalan.

Selain itu semua, tahun ini saya berhasil mengatasi rasa takut. Akhirnya saya berani menjalani operasi mata, yang Puji Tuhan segala prosesnya lancar.

Dalam hal pekerjaan, saya bersyukur semuanya berjalan lancar. Tidak ada drama-drama gak penting, setidaknya bagi saya pribadi. 

2016 sudah akan berakhir, meninggalkan pengalaman yang takkan saya lupakan sampai kapanpun. 

Saya bersyukur memiliki orang tua yang sangat suportif dan selalu berdoa untuk saya. Tanpa doa mereka, saya tidak akan sekuat ini menghadapi hari-hari saya. Tanpa dukungan dari mereka, saya tidak akan seberani ini dalam mengambil berbagai keputusan-keputusan besar.

Spesial terima kasih buat kamu yang sudah membuat hari-hari saya lebih berwarna dan yang menularkan semangat berjuang pada saya. Kamu tahulah kamu siapa. Tahun 2017 sepertinya kita akan terpisah jarak (lagi). Namun, saya percaya suatu hubungan yang berdasar pada iman akan Tuhan, adalah sebuah hubungan yang kuat. Semoga studimu dan rencana studi saya selalu dilancarkan. Amin. 

Di atas segalanya, syukur tak terhingga saya ucapkan pada Tuhan karena telah menyertai setiap langkah saya di tahun 2016 yang akan segera berakhir ini.

Selamat tahun baru, teman-teman semua. Semoga tahun 2017 akan memberikan berbagai pengalaman baru bagi kita semua. Tuhan berkati 🙂