Memandang Indonesia dari Jauh

Selamat Ulang Tahun, Indonesia!

Tahun ini saya kembali “merayakan” kemerdekaan tanah air dari benua Eropa. Tapi tak apa. Walaupun raga saya sering berpindah-pindah, tetapi jiwa saya tetap ada untuk Indonesia.

Apa arti “merdeka” bagi saya? Memiliki kebebasan untuk menentukan mau jadi apa saya di masa yang akan datang. Memiliki kesempatan untuk mendalami ilmu yang saya tekuni hingga jenjang yang setinggi mungkin.

Indonesia sendiri, secara resmi sudah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Tapi, apakah bangsa kita yang telah berusia 72 tahun ini benar-benar merdeka? Kita memang telah merdeka dari penjajah. Namun, rakyat kita sayangnya sepertinya belum mau merdeka. Lihat saja berbagai konflik yang terjadi di Indonesia, yang sebagian besar mengatasnamakan agama demi kepentingan politik. Lihat saja rakyat kita yang masih sangat mudah untuk diadu-domba dan diprovokasi oleh berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab.

Saat saya masih tinggal di Indonesia, setiap hari saya selalu dicekoki oleh berita-berita negatif tentang tanah air. Rasanya hampir tidak pernah saya dengar berita yang bagus tentang Indonesia. Sebagai orang Indonesia, saya pernah apatis terhadap masa depan negara ini. Walau sekarang sedikit demi sedikit saya mulai optimis dengan Indonesia.

Kita harus pergi menjauh, supaya bisa memandang tanah air dari sudut pandang yang lebih netral.

Saya pernah membaca kalimat itu. Memang benar, ketika saya berada jauh dari tanah air, sense of belonging terhadap Indonesia semakin kuat. Rasanya saat teman yang berasal dari negara lain bercerita tentang betapa hebat negaranya, saya juga tidak mau kalah berkata “di negara saya juga begitu”. Di sini juga saya seringkali merasa bangga dengan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai pulau. Teman-teman dari negara lain iri lho dengan keindahan dan kekayaan negara kita.

Saya juga bangga ketika orang bule melabeli orang Indonesia sebagai pekerja keras. Orang-orang Indonesia selalu berprestasi di luar negeri. Oleh karena itu, banyak yang ditawari untuk bekerja di negeri orang. Dulu waktu saya sekolah di Inggris, ada seorang opa yang sampai membawa selembar peta dunia. Dia hanya ingin menunjukkan betapa jauhnya kami, pelajar-pelajar dari Indonesia, menempuh perjalanan berbelas-belas jam untuk belajar di negerinya Ratu Elizabeth itu. Kenapa mereka begitu kagum? Karena orang Inggris (dan sebagian besar orang Eropa) itu malas untuk jauh-jauh merantau.

Sekarang di Jerman, teman-teman saya juga banyak yang penasaran dengan Indonesia. Mereka ingin mengunjungi Bali, Labuan Bajo, Pulau Komodo, Wakatobi, Raja Ampat, dan berbagai tempat indah lainnya di Indonesia. Saya merasa malu sekali ketika saya hanya bisa menunjukkan gambar-gambar dari Google Images, karena dari semua tempat itu saya baru pernah ke Bali saja. Malu karena saya sudah menjelajahi berbagai negara di dunia, tapi saya belum banyak menjelajahi negara saya sendiri.

Beberapa waktu lalu tersebar tulisan di media sosial yang mengkritik pelajar-pelajar Indonesia di luar negeri yang kebanyakan plesiran. Tapi, apakah mereka tahu bahwa kami di sini tak henti-hentinya mempromosikan budaya Indonesia? Orang-orang Indonesia (yang kurang piknik) memang bisanya hanya mengkritik.

Adakah hal buruk yang saya alami di sini terkait kewarganegaraan saya? Untuk hal-hal yang berhubungan dengan birokrasi, iya saya memang agak sedikit “dicurigai” karena memegang paspor Indonesia. Tapi sejauh ini sih semua urusan sudah berakhir lancar. Oleh karena itu, saya di sini selalu berharap agar situasi di Indonesia selalu aman terkendali. Supaya saya dan teman-teman lain dari Indonesia bisa belajar dengan tenang.

Seenak-enaknya tinggal di negara orang, lebih enak tinggal di negara sendiri. Di sini banyak aturan. Peraturan di Indonesia lebih fleksibel. Di Indonesia, ketika keluar rumah, kita selalu disapa ramah oleh tetangga. Kadangkala kita merasa mereka lebay. Cobalah tinggal di Jerman. Kita mencoba menyapa tetangga, mereka malah pasang muka bingung. Indonesia adalah surganya makanan enak. Di sini? Jangan harap. Sebagian besar makanan di sini hambar tidak ada rasanya. Haha.

Pergilah merantau, maka kamu akan menyadari betapa berharganya tanah airmu

Untuk Indonesia tanah airku, Dirgahayu! Suatu saat saya akan kembali dan membangun tanah air dengan ilmu yang saya miliki. Doakan kami yang sedang berjuang ini.

Walaupun banyak negeri kujalani

Yang mashyur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Disanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan 

Selamat upacara. Selamat lomba makan kerupuk, balap karung, bakiak, panjat pinang, balap kelereng, dan sebagainya. Di sini 17 Agustus tetap kami lalui layaknya hari biasa. Untuk teman-teman Indonesia di Jerman, ada acara di KBRI Berlin, KJRI Frankfurt, dan KJRI Hamburg. Tapi geng Köln tidak bisa join. 😀

Dealing With My Introversion

According to Myers-Briggs personality test that I took last year, I have an INTJ (Introvert, Intuitive, Thinking, Judging) personality. This is a rare personality and only 0.8 % of women population in the world possess this type of personality (16personalities.com). Yeay! 😀

Is it hard for me, as an introvert, to fit in the society? The answers are yes and no. I grew up as a bookworm. Other people may feel insulted with that stereotype, but I don’t. I’m proud to be called a “bookworm”. Just so you know, I read the Indonesian translated version of “Chicken Soup for the Kid’s Soul”, as well as Enid Blyton’s “St. Clare’s” series when I was in 4th grade. I started reading those Indonesian literatures (such as Pram’s “Bumi Manusia”,Ayu Utami’s “Larung”, Fira Basuki’s “Atap” series)  when I was 6th grade. I read Dee’s “Supernova : Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh”, when I was 7th grade. I read Mitch Albom’s “Tuesdays with Morrie” when I was in 8th grade. Yes I still perfectly remember everything.

During my teenage-hood when I experienced my puberty ups and downs moments,  it seemed so important to be exist in the peer-society. As an introvert I always feel like an outsider. When I was in middle school, the situation was still easy because my best friend is also a fellow introvert. But the situation was harder for me when I entered high school as I moved from a Catholic school to a public high school. Frankly speaking, the beginning of high school was a disaster. I didn’t made so many friends during high school. People say high school is the best moment of anyone’s life. Well, it didn’t applied to me. It wasn’t my best moment, but it wasn’t the worst either. I enjoyed my high school moment in my way. I prefer to spend my time during the second break periods in the library, rather than going to the canteen. The craziest moment was when I didn’t invited for prom. It wasn’t a big deal for me though, as that prom was a little bit “illegal” because the students didn’t get any formal permissions from school. But, still I felt sad. Years later (a.k.a one day in early August 2017) I found an article in Pinterest, saying that “an Introvert likes to receive invitations, although at the end they prefer not to go”. Haha. That’s so relatable.

I started to be an outgoing person when I entered college. I enjoyed made friends with quite a lot of people. I involved in some organizations while still maintaining my academic performance. I was happy that finally people know about my talent. I was happy because finally my opinions are heard and counted. But honestly, during that times, I often thought that I was living other people’s life. I wore masks just to fit in the society. Even I wrote an article in this blog back then in 2010. If you read that article, it was so clear that I tried so hard to be a little bit more extrovert.

But then as I entered my adulthood and went to the UK to do my masters, I didn’t really care about what people think of me. I was so lucky that Europeans are unlike Indonesians. I could live my life as comfortable as I wanted to. Thankfully in early 2013 I went back to Indonesia with a different mindset. Yes, I am an introvert. So what?

Right after I found out that I am an INTJ, I started researching about that topic. I read countless articles about introversion. I read this book about INTJ written by Dan Johnson. This book made me even more confident with myself and grateful that I choose to follow a career path which is in-line with my personality. Not everyone can have a life as enjoyable as I am. Then I also read this book by Susan Cain, who started a “quiet” revolution-which I am currently re-reading it). Reading this book, I feel that I’m not alone in this world. Being an introvert doesn’t mean that I can’t be a leader. Being an introvert doesn’t mean that I am a nerd. Currently our world needs more listeners, as there are now so many people who love to talk without even thinking. This world also needs more followers. If everyone wants to be leaders, then who will be followers?

I’m proud to be an INTJ and also a Piscean (which means that I’m an introvert-melancholic person). Not many people can enjoy their solitudes. I have many friends but I choose to whom I speak to. I like my small inner-circle of friends. I feel awkward whenever I am trapped in the new crowds, but once I find someone who have similar interests and with whom I feel comfortable, believe me, I will be a very nice companion. Introvert can be crazy, as well. You can ask my friend! Yes I feel pissed off sometimes  when I have to interact with people who don’t have similar levels of understanding about certain topics. Haha.

For all of those fellow INTJs out there, just believe that we’re specials. To sum up this article, I want you to watch this Ted talk delivered by Susan Cain.

This article is inspired by a short discussion last Saturday, with an INFJ. 😀

The Best vs The Better

God already given me the best one but I still keep on searching to find the better one instead.

Mendadak kalimat itu terlintas di pikiran saya ketika saya merenung pagi tadi. Kembali membahas masalah hati dan perasaan. Saya merasa tidak mensyukuri anugerah Tuhan karena menyesali kondisi saya yang hingga saat ini masih single. Ketika curhat dengan orang-orang terdekat, topik pembicaraan juga pasti ujung-ujungnya nyenggol ke sana.

Saya berusaha mencari seseorang yang lebih baik buat saya, padahal saya sudah dipertemukan dengan yang terbaik. Dia yang selalu mengikuti perkembangan saya dari jauh, yang pada akhirnya berani maju selangkah demi selangkah. Pasti luar biasa pergumulan yang sudah terjadi dalam hatinya, menebak-nebak apakah saya nyaman dengan kehadirannya.

Tetapi, ketika pada suatu hari saya dikenalkan dengan seorang lain yang ternyata bisa mengisi sedikit kekosongan di hati, saya meninggalkan dia yang sudah berjuang untuk saya itu. Semakin saya berpikir, saya merasa bahwa ada yang salah dengan saya. Jujur saya sempat terbutakan dengan perhatian semu dari seseorang yang saya anggap lebih baik itu. Tiga hari lalu saya sampai pada titik di mana saya membandingkan kepribadian dua orang itu. Ditinjau dari segala sisi, dia memang jauh lebih baik. Kemarin saya video call sama Ibu, dan beliau tanya tentang kondisi percintaan saya. Biasalah itu saya memang selalu curhat sama Ibu. Beliau juga lebih setuju kalau saya sama yang pertama saja. Haha. Sehingga sempat agak “menentang” ketika saya mulai dekat dengan yang kedua. Ternyata memang insting seorang Ibu itu benar ya.

Jadi saya kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri saya. Siapa yang semangatin saya ketika saya lagi down? Siapa yang dorong saya buat sekolah lagi? Siapa yang paling bahagia ketika saya lolos beasiswa? Siapa yang mau mengorbankan waktunya untuk bertemu dengan saya? Jawabannya cuma satu : dia.

It seems so unfair if I leave him just because it took him so long to answer my text. Sedangkan dulu dia sudah pernah menunggu saya bertahun-tahun tanpa kepastian. Tiga tahun ke depan kita memang terpisah jarak dan waktu. Saya di Jerman, dia di Indonesia. Komunikasi juga sepertinya agak susah, karena dia profesi dia menuntutnya untuk mengutamakan keselamatan orang lain di atas kepentingan pribadinya.

Tapi, satu hal yang pasti, dia dekati saya tanpa tendensi apapun. Saya tahu itu.

Beberapa hari lalu saya dinasihati sama teman serumah saya :

“Jangan pernah kita merasa bisa mengubah kebiasaan buruk seseorang. Ketika kita memutuskan untuk menikah sama seseorang, kita harus bisa menerima kebiasaan buruknya seumur hidup kita. Kalau kamu belum bisa menerima, lebih baik tidak usah dilanjutkan”

Nasihat itu yang membuat saya berpikir dan membawa saya pada titik ini.

Mari nikmati masa-masa ini dengan penuh rasa syukur. Saya akhirnya bisa ke Jerman. Dia akhirnya bisa belajar bedah-bedah juga. Dia orang yang gigih, tidak pernah mengeluh, selalu sigap bantu orang sampai seringkali “dimanfaatkan” juga sama orang-orang di sekitarnya.

Terkadang kangen diskusi bareng dia, baik diskusi yang serius maupun yang tidak serius. Lebih kangen lagi duduk bersebelahan dengan dia, karena entah kenapa sepertinya dia punya heat transfer energy. Hangat sekali duduk di sebelah dia. Haha.

Love is complicated, indeed.

Tulisan ini dibuat pada hari Minggu, 30 Juli 2017.

 

Flashback

Tadi pagi begitu bangun tidur, seperti lazimnya aktivitas rutin di akhir minggu, saya cek timeline salah satu media sosial. Teman saya ada yang posting foto wisuda ITB Juli 2017. Mendadak saya teringat momen yang sama, 7 tahun lalu. Ya, pada bulan Juli 2010 saya resmi keluar dari Institut Teknologi Bandung (lewat Sabuga, bukan lewat Annex), dengan menyandang gelar Sarjana Sains setelah menjalani masa studi selama 4 tahun. Masih teringat drama (sidang yang diulang!), yang menyertai proses kelulusan saya dari program S1 Mikrobiologi.

Sudah banyak yang terjadi semenjak saya meninggalkan kampus di Jl. Ganesa 10, Bandung itu, sampai sekarang 7 tahun kemudian saya terdampar di Jerman ini.

Masa-masa awal kelulusan dipenuhi dengan euforia. Tapi setelah beberapa bulan, jujur saja saya merasa takut jadi pengangguran. Pada masa itu, sulit sekali mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang saya. Beberapa job fair saya datangi. Beberapa wawancara kerja saya jalani. Tanpa hasil. Tapi justru di titik itulah saya menyadari bahwa saya tidak memiliki passion untuk bekerja di korporat. Passion saya adalah bekerja di bidang akademik. Ketika saya mengutarakan niat saya untuk jadi peneliti dan dosen, beberapa orang menertawakan. Katanya saya terlalu idealis. Beruntung orang tua saya selalu mendukung apapun yang saya lakukan.

Dengan campur tangan Tuhan, saya yang lulus S1 dengan IPK biasa-biasa saja (saya gak cum laude lho), bisa lanjut kuliah S2 dan lulus, bisa jadi dosen, dan bisa lanjut studi S3.

Karena keajaiban itu nyata adanya.

Sedikit pesan untuk teman-teman yang baru lulus, temukan passion kalian. Tidak usah pedulikan apa kata orang. Sepanjang pekerjaan kalian bisa berguna bagi orang-orang di sekitar kalian, tidak perlu gengsi.

[Sharing] First Things First

Halo! Tidak terasa sudah 1 bulan lebih saya tinggal di Jerman. Sudah mulai bisa beradaptasi dengan segala keteraturan di sini. Walaupun beberapa kali hampir ketabrak sepeda karena (tidak sengaja) berjalan di jalur merah, diklakson mobil gara-gara jalan di sebelah kiri (harusnya jalan di kanan), nyeberang tengoknya kiri di jalur yang harusnya tengok kanan. Sempat terkaget-kaget juga ternyata orang Jerman ada yang bisa senyum juga. Ya begitulah. Sedikit culture shock di minggu-minggu pertama.

Sudah lama tidak sharing, kali ini saya akan sharing sedikit pengalaman saya pada 1 bulan pertama di sini. Semoga berguna untuk teman-teman yang ada rencana untuk studi lanjut di Jerman pada umumnya, dan di UDE pada khususnya (karena peraturan di masing-masing Universitas sedikit berbeda). Oiya, saya sharing di sini dalam kapasitas saya sebagai penerima beasiswa DAAD. Untuk yang studi di sini dengan beasiswa lain, bisa jadi prosesnya tidak semulus yang saya alami.

Secara kronologis prosesnya seperti ini :

Immatrikulasi (Re-registrasi) di Universitas tempat kita akan belajar

Setiap mahasiswa harus melakukan immatrikulasi supaya secara resmi diterima di Universitas. Jadi, walaupun kita sudah menerima Acceptance Letter dari universitas, bukan berarti kita sudah resmi jadi mahasiswa di sana. Ini salah satu perbedaan sistem pendidikan di Jerman dan UK. Di sebagian besar universitas, mahasiswa harus melakukan immatrikulasi pada periode yang sudah ditentukan. Tapi, untungnya di UDE immatrikulasi untuk mahasiswa Doktoral bisa dilakukan kapan saja. Jadilah, saya langsung immatrikulasi di Universitas sebelum ke Köln, akhir Mei lalu. Paling lama (kalau di UDE), sekitar 1 minggu kemudian kita akan terima surat dari Universitas yang berisi bukti immatrikulasi, username & password untuk aktivasi email mahasiswa, dan contoh form untuk transfer semester social contribution.

Registrasi diri dan tempat tinggal (Meldebestätigung) di Rathaus (City Hall/ Balai Kota)

Kita harus isi form (tentunya dalam bahasa Jerman) yang kemudian kita kirimkan beserta fotokopi halaman depan passport, halaman yang berisi visa kita, dan dokumen kontrak rumah. Untuk penerima beasiswa DAAD, yang kita harus lakukan hanya isi form dan bebas biaya. Proses selanjutnya akan dikoordinir oleh tempat kursus kita yang sudah diberi kepercayaan oleh DAAD untuk menangani ini. Untuk selain penerima beasiswa DAAD, sepertinya proses ini akan dikenakan biaya (sekitar 20-50 Euro, kayanya) dan yang bersangkutan harus datang sendiri ke Balai Kota dengan membawa segala dokumen yang diperlukan, Tapi, berdasarkan cerita teman saya, prosesnya gak lama dan gak ribet kok, karena memang orang Jerman sangat efisien dalam bekerja. Saya baru sadar 2 hari lalu bahwa ternyata ada kesalahan informasi pada Meldebestätigung saya. Kode pos yang tertulis salah, karena ternyata ada dua jalan dengan nama yang sama dengan tempat tinggal saya. Haha. Sepertinya dokumen saya akan direvisi. Setiap pindah kota, kita harus mendaftarkan alamat baru kita. Jadi nanti ketika saya pindah dari Köln ke Essen, saya harus melakukan proses yang sama.

Membuka bank account 

Hal lain yang membedakan Jerman dengan negara lain adalah di sini hampir tidak ada cabang bank internasional. Jadi, kalau kita sekolah atau kerja di Jerman, kita harus punya akun di bank Jerman. Hal ini agak menyusahkan proses transfer dari Indonesia ke Jerman (dan sebaliknya). Untuk membuka bank account ini sebenarnya prosesnya gak ribet. Kita hanya diwajibkan membawa beberapa dokumen, seperti passport dan Meldebestätigung. Tapi, ada beberapa bank yang tidak bisa membukakan account untuk mereka yang memegang passport dari negara-negara tertentu (sebagian besar adalah negara-negara di Timur Tengah). Celakanya, sekarang beberapa bank mulai berpikir untuk memasukkan Indonesia ke dalam “high risk countries” list mereka. Hmm…makanya semoga di tanah air tidak ada kebijakan dan/atau kejadian yang aneh-aneh ya. Menyusahkan kami yang sedang belajar di tanah rantau.

Membayar social contribution ke account universitas 

Ketika kita sudah punya bank account dan sudah melakukan immatrikulasi, kita bisa membayar social contribution ke universitas. Salah satu keuntungan dari membayar social contribution itu, kita bisa menggunakan transportasi (bus, U-Bahn, Straßen Bahn, S-Bahn, Kereta Regional) di satu provinsi secara gratis selama satu semester. Makanya dinamakan Semesterticket.

Itu saja sih yang paling krusial. Selain poin-poin di atas, kita juga harus banyak bergaul dengan orang lokal (untuk mengasah kemampuan berbahasa Jerman), dan juga dengan teman-teman dari negara lain. Namun, jangan lupa juga untuk mencari komunitas pelajar/orang Indonesia di kota tempat kalian tinggal. Selain bisa berbagi cerita dengan teman-teman senasib, juga bisa jadi ajang kumpul-kumpul sambil makan-makan. 🙂

Salam dari Köln yang hari ini hujan

01 Juli 2017

So?

Jadi ceritanya saya lagi iseng lihat-lihat video di Youtube, sampai menemukan video di atas. Friends vs. More Than Friends. Tanpa sadar saya mengaitkan konten video itu dengan peristiwa yang terjadi pada saya.

Beberapa teman sering bilang bahwa saya tidak peka. Jadi, alasan saya single sampai sekarang itu karena saya gak peka. Itu pendapat mereka. Gak tau juga benar atau tidak.

Singkat cerita ada seseorang yang dekat sama saya sejak November 2016. Saya merasa dia hanya menganggap saya teman dan kita berteman secara profesional karena saya juga terlibat suatu proyek dengan dia. Tapi sahabat saya bilang “ih dia tuh suka sama lo, kali La”.

Suatu hari di awal Februari 2017, kita pernah janjian. Hari itu Jumat malam dan hujan. Kami janjian di sebuah mall dekat rumah saya untuk makan dan nonton. Kantor dia di pusat Jakarta, sedangkan meeting point kita di selatan Jakarta. Bisa dibayangkan betapa macetnya jalanan dari kantor dia ke meeting point kita. Jadi, saya sudah perkirakan kalau kemungkinan besar acara ketemuan hari itu akan batal. Tapi ternyata dia datang, naik ojek hujan-hujanan. Padahal beberapa hari sebelumnya bilang lagi sakit radang tenggorokan. Dia bayarin saya makan dan nonton, kemudian dia antar saya pulang.

Kalau definisi “suka” bisa diukur salah satunya dari parameter di atas, ya mungkin saja dia suka sama saya.

Tapi banyak sifat dia yang tidak (belum) bisa saya tolerir. Salah satunya : ingkar janji. Walaupun dia selalu klarifikasi alasannya, tapi tetap saja saya tidak suka. Contohnya, beberapa minggu lalu sebelum saya pergi dia sudah ajak saya ketemu, sudah set waktu. Tapi akhirnya batal. Wajar saya kecewa.

Ketika saya sudah di sini, kami hampir setiap hari berkomunikasi via chat. Kadang juga dia menelepon.

Apa segala definisi di atas itu berarti dia “more than friends?”

Yang saya mau adalah : kalau memang suka, bilang suka. gak perlu pakai kode segala macam. Kan belum tentu saya tolak juga.

Ada teman yang bilang, di umur kita yang sekarang ini sudah tidak perlu legitimasi suatu hubungan dengan kata-kata (baca : prosesi penembakan). Well, buat saya itu perlu. Untuk meminimalisir rasa kecewa kalau ternyata dia hanya menganggap kita teman.

Kalau si tersangka itu tidak sengaja tersasar di blog ini, ya mohon diperjelas aja sih. Haha.

Step 1 : German Language Course

Seperti yang sudah saya ceritakan di post sebelumnya, saya memulai perjalanan studi S3 di Jerman ini dengan belajar bahasa Jerman. Awalnya saya berpikir “ngapain sih belajar bahasa Jerman segala padahal kan nanti saya akan menulis thesis dalam bahasa Inggris?” Eitss..jangan salah..setelah sampai di sini saya baru menyadari bahwa begitu banyak orang Jerman yang tidak bisa berbahasa Inggris. Jadi, untuk bisa survive memang harus memiliki sedikit pengetahuan bahasa Jerman. Selain itu, ketika saya menemui Prof saya minggu lalu beliau bilang bahwa saya sebaiknya bisa bahasa Jerman supaya “nyambung” nanti kalau sudah mulai penelitian. Agak shock juga ketika tahu research group saya beranggotakan orang Jerman semua, kecuali saya. Tapi yasudahlah. Dibawa happy saja. 😀

Sudah dua hari ini saya mengikuti kursus super intensif bahasa Jerman di Cologne. Biaya kursus dan akomodasi semua ditanggung oleh DAAD. Dapat uang saku pula. Puji Tuhan luar biasa sekali. Makanya harus serius. Saya mengikuti kursus di level A2. Di sini ternyata kursusnya lebih menitikberatkan pada conversation. Pesertanya juga datang dari berbagai negara, yang harus saya akui mereka sangat aktif di kelas. Jujur saja saya agak keteteran. But I will catch up! 🙂

Hidup saya di sini masih agak santai, karena setiap hari kursus selesai pukul 13.00. Setelah itu adalah waktu bebas, yang beberapa hari ini saya manfaatkan untuk menemani teman-teman baru saya ke pusat kota untuk membeli SIM card. Haha. Serasa sudah tinggal lama di sini. Oiya saya bertemu dua orang Indonesia di tempat kursus. Senang! Mereka berdua berasal dari Manado. Penerima beasiswa DAAD juga, tetapi berbeda skema dengan saya. Selain itu juga saya berteman dengan orang Pakistan, Malaysia, dan Thailand. Yang orang Thailand ini lucu banget dan berinisiatif membentuk South-east Asian Union. Haha.

Seperti yang telah saya singgung di atas, DAAD sudah menyiapkan akomodasi untuk saya. Puji Tuhan lagi lokasi akomodasi saya juga masih relatif dekat dengan pusat kota. Pemilik rumah (landlady) nya juga baik dan sangat helpful. Beliau sukses mematahkan pendapat saya bahwa orang Jerman itu “dingin”. Kebetulan saya ditempatkan di akomodasi tipe communal residence dan dapat housemate orang Indonesia dan Katolik juga. Jadi bisa ke gereja bareng, deh. Memang berkat Tuhan sangat luar biasa bagi saya. Tidak henti-hentinya bersyukur.

I’m safe and sound, so far!

Cologne. 7 Juni 2017. 9.04 PM

IMG_7427

Kolner Dom, yang dulu cuma bisa saya lihat di postcard. Sekarang hanya berjarak beberapa halte dari tempat tinggal saya.

IMG_7432

Pemandangan dari kamar saya. So refreshing!